Dior Dior Dior

Sejarah Reservoir Siranda, Jejak Perjuangan dr. Kariadi dan Pertempuran Lima Hari Semarang

Dior

Bangunan Tua yang Masih Berdiri Kokoh

Apa Kabar Semarang – Reservoir Siranda di Jalan Diponegoro, Semarang, kini bukan hanya sekadar tandon air, tetapi juga saksi sejarah perjuangan bangsa. Cat biru mencolok yang melapisi dindingnya membuat bangunan ini mudah dikenali setiap pengendara yang melintas. Meski berusia lebih dari seabad, reservoir tersebut tetap berdiri kokoh dan menjadi bagian penting dari sejarah Kota Semarang.

Dibangun Belanda pada 1912

Bangunan ini didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1912. Fungsinya untuk menyalurkan air dari sumber di Moedal, Gunungpati, ke berbagai kawasan vital di Semarang. Dari reservoir Siranda, aliran air menjangkau kawasan Simpang Lima, Jalan Pemuda, Kota Lama, hingga pelabuhan Mberok. Infrastruktur ini kala itu menjadi penopang utama kebutuhan air bersih di pusat kota.

Dior
Mahasiswa Sejarah Unnes Kunjungi Reservoir Siranda, Mengenang Perjuangan dr  Kariadi - Mondes
Sejarah Reservoir Siranda, Jejak Perjuangan dr. Kariadi dan Pertempuran Lima Hari Semarang

Jaringan Reservoir di Semarang

Selain Siranda, Belanda juga membangun dua lainnya, yakni Keploh dan Jomblang. Reservoir Keploh berfungsi menyalurkan air ke wilayah perbukitan Semarang bagian atas, sementara Jomblang melayani kawasan timur kota. Kehadiran ketiga reservoir ini menunjukkan betapa pentingnya perencanaan sistem air bersih bagi perkembangan Semarang pada masa kolonial.

Baca Juga : PDAM Kota Semarang Klarifikasi Soal Temuan Mayat di Reservoir Siranda, Warganet: Waduh Kaldu Anyir

Jejak Perjuangan dr. Kariadi

Reservoir Siranda tidak hanya menyimpan kisah pembangunan, tetapi juga jejak perjuangan pahlawan nasional dr. Kariadi. Pada masa agresi militer Belanda, kawasan Siranda menjadi salah satu titik pertahanan pejuang Semarang. Dr. Kariadi yang kala itu menjabat Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara (kini RSUP dr. Kariadi), turut berjuang menjaga Semarang dari serangan Belanda. Sayangnya, ia gugur di sekitar area Siranda saat melakukan pengabdian dan perlawanan. Namanya kini diabadikan sebagai nama rumah sakit terbesar di Jawa Tengah.

Pertempuran Lima Hari di Semarang

Peristiwa penting lain yang tak lepas dari Reservoir Siranda adalah Pertempuran Lima Hari di Semarang pada 14–19 Oktober 1945. Pertempuran ini pecah setelah kabar tewasnya dr. Kariadi, yang memicu semangat rakyat Semarang untuk melawan tentara Jepang yang masih bercokol. Reservoir Siranda menjadi salah satu titik strategis dalam perlawanan itu, sekaligus simbol keberanian arek-arek Semarang mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Warisan Sejarah yang Perlu Dijaga

Kini, Reservoir Siranda tidak lagi berfungsi sebagai penyuplai utama air bersih. Fungsinya lebih banyak sebagai cadangan oleh PDAM Semarang. Namun, nilai sejarah yang terkandung di dalamnya jauh lebih besar dari sekadar bangunan penyimpanan air. Reservoir ini menjadi pengingat perjuangan pahlawan sekaligus saksi bisu semangat rakyat Semarang dalam mempertahankan kemerdekaan.

Simbol Identitas Kota Semarang

Sebagai bangunan cagar budaya, Reservoir Siranda layak dijaga dan dilestarikan. Selain menyimpan nilai historis, keberadaannya juga memperkuat identitas Kota Semarang sebagai kota perjuangan. Dengan cat birunya yang khas, reservoir ini tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga menyimpan kisah panjang tentang air, kehidupan, dan perjuangan kemerdekaan.

Dior