Apa Kabar Semarang – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait kesehatan anak di Indonesia. Dalam kunjungannya ke kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Semarang, Arifah menyebut 93 persen anak Indonesia memiliki masalah pada gigi, sementara hanya 7 persen yang giginya dalam kondisi baik.
“Angka kerusakan gigi anak sangat tinggi, bahkan lebih dari 90 persen. Ini menjadi perhatian serius selain isu stunting. CKG ini kami lakukan sebagai salah satu solusi agar kesehatan anak-anak lebih terjamin,” ujar Arifah Fauzi, Senin (4/8/2025).

Dalam kegiatan tersebut, siswa SLBN dari berbagai jenjang pendidikan—mulai SD hingga SMA—mengantre untuk diperiksa oleh tim medis. Suasana berlangsung hangat dan penuh semangat, meskipun beberapa siswa terlihat gugup atau rewel saat menjalani pemeriksaan.
Menurut Arifah, kegiatan seperti ini menjadi fondasi penting untuk mewujudkan SDM berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Kesehatan anak, katanya, harus menjadi prioritas utama sejak dini.
“Kalau kita ingin menciptakan generasi emas di tahun 2045, maka pondasinya adalah kesehatan. Anak-anak harus tumbuh sehat dan kuat sejak sekarang,” tambahnya.
Baca Juga : Hakim Tunda Sidang Vonis Penyuap Eks Walkot Semarang Mbak Ita
Susan, salah satu orang tua siswa, mengapresiasi kegiatan ini. Ia mengaku baru pertama kali anaknya menjalani pemeriksaan menyeluruh seperti ini. “Biasanya hanya terapi. Anak saya autis, jadi harus dipandu saat cek darah karena takut jarum,” ujar Susan, warga Tlogomulyo.
Deteksi Dini Masalah Gigi dan Kesehatan Anak
Direktur Jenderal SDM Kementerian Kesehatan, Yuli Farianti, menambahkan bahwa program CKG menyasar anak-anak usia 7–17 tahun, termasuk yang belum masuk sekolah. Tujuannya adalah mendeteksi dini berbagai masalah kesehatan seperti diabetes, gangguan tumbuh kembang, hingga kesehatan gigi dan mulut.
“Kalau diketahui lebih awal, penanganan juga bisa lebih cepat dan tepat. Ini penting untuk mencegah komplikasi di masa depan,” kata Yuli.
Sementara itu, Kepala SLBN Semarang, Sri Sugiarti, menyampaikan terima kasih atas pelaksanaan CKG di sekolahnya yang memiliki 579 siswa dengan lima kategori ketunaan, yakni tuna rungu, wicara, grahita, daksa, dan autisme. Hasil CKG ini nantinya akan digunakan sebagai acuan penyusunan indeks kesehatan dan pelaporan kepada orang tua.
“Kami akan terus berkolaborasi dengan puskesmas pembina untuk pemantauan lanjutan. Kegiatan seperti ini sangat membantu sekolah,” tegas Sri.






