Apa Kabar Semarang – Publik dihebohkan oleh beredarnya video yang menunjukkan sebuah insiden di RSI Sultan Agung Semarang, di mana seorang pria tiba-tiba mengamuk saat berada di ruang perawatan. Pria tersebut kemudian diidentifikasi sebagai Muhammad Dias Saktiawan, dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang

Peristiwa ini terjadi ketika istri Dias menjalani proses persalinan. Menurut penuturan Dewan Pengawas RSI Sultan Agung, Farhat Suryaningrat, kondisi tersebut awalnya direkomendasikan untuk dioperasi caesar oleh tim medis karena risiko tinggi. Namun, keluarga pasien bersikeras memilih persalinan normal. Pasien akhirnya lahir dengan selamat, begitu pula ibunya dan bayinya. Farhat menegaskan tidak ada kontak fisik—seperti pukulan atau cakaran—yang terjadi. Ia menyebut insiden itu murni berbagai teriakan panik yang dilontarkan oleh sang ayah dalam situasi emosional tinggi.
Baca Juga : Soal Insiden Kekerasan di RSI Sultan Agung Semarang, Dewan Pengawas Buka Suara
Di sisi lain, video yang viral memperlihatkan pria tersebut meluapkan kemarahan dengan umpatan, teriakan, serta tindakan tendangan yang merusak pintu ruangan. Rekaman itu sempat menyebutkan bidan hingga terlihat menangis ketakutan.
Dugaan Kekerasan oleh Dosen terhadap Tenaga Medis
Menanggapi kejadian tersebut, Wakil Rektor II Unissula, Dedi Rusdi, menyatakan bahwa persoalan telah dituntaskan dengan cara kekeluargaan. Pihak kampus bekerja sama dengan manajemen RSI telah mempertemukan Dias dengan tenaga medis yang terlibat dan memastikan kedua belah pihak telah saling memaafkan. Pertemuan ini dilaksanakan oleh pimpinan rumah sakit pada Jumat siang, 5 September 2025.
Manajemen RSI Sultan Agung juga memastikan kasus ini kini dikelola secara internal oleh pihak rumah sakit dan direksi, dengan tetap menegaskan komitmen menjaga kehormatan tenaga medis serta institusi kesehatan dan pendidikan. Mereka membuka ruang komunikasi serta memberikan pendampingan kepada dokter hingga penyelesaian secara damai bisa tercapai.
Ketua IDI Jawa Tengah, dr. Telogo Wismo, turut menyampaikan keprihatinan atas tingginya insiden kekerasan terhadap tenaga medis belakangan ini. IDI bahkan menyiapkan tim bantuan hukum untuk mendalami kasus ini, meskipun kewenangan awal berada di pihak rumah sakit.






